Tim Pemburu Harimau di Pelangiran Ditambah

Selasa, 13 Maret 2018


INHIL - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau menambah personel lagi ke lokasi konflik harimau vs manusia. Tim ini bertugas untuk mengevakuasi harimau Bonita.

Demikian disampaikan, Kepala BBKSDA Riau, Suharyono dalam perbincangan dengan detikcom, Senin (12/3/2018). Haryono begitu sapaan akrabnya menjelaskan, bahwa pihaknya hari ini mengirimkan tim ke lokasi konflik di Desa Tanjung Simpang Kanan, Kec Pelangiran.

"Hari ini tim tambahan kita berangkatkan menuju lokasi konflik. Untuk menuju ke lokasi membutuhkan waktu yang lumayan lama, karena lokasinya tidak mudah dijangkau," kata Haryono.

Penambahan personel BBKSDA Riau ke lokasi ini juga merupakan intruksi dari Dirjen Koservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Wiratni.

"Dirjen KSDAE menugaskan kita untuk semakin intensif komunikasi dengan masyarakat di lokasi konflik dan mencegah timbulnya amarah warga. Sekaligus kita diminta menambah personel operasi di lapangan," kata Haryono.

Sebagaimana diketahui, harimau Bonita diduga kuat telah menyerang Yusri (30) buruh bangunan di lokasi konflik pada Sabtu (10/3). Korban tewas setelah bagian tengkuknya digigit Bonita. Yusri adalah korban kedua setelah Jumiati karyawan perkebunan sawit PT Tabung Haji Indo Plantations yang tewas pada 3 Januari 2018 lalu.

Sudah dua bulan Bonita 'diburu' tim agar bisa dievakuasi dari lokasi tersebut. Caranya, dengan masanga box trap dengan umpan kambing di dalamnya. Tapi upaya ini belum membuahkan hasil.

Sepekan terakhir, tim dokter hewan dikirim ke lokasi. Tahapannya, belum pada cara penembakan bius. Namun tim menebar umpan daging yang sudah diberikan obat bius. Lagi-lagi, Bonita belum terpancing untuk menyantap umpan itu.

Sumber : detik.com

loading...

Selasa, Maret 13, 2018

0 komentar:

Posting Komentar

loading...