-->

PALUMA Gelar Workshop Sistem Peringatan Dini Tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan

Publish: Redaksi ----


RAJABASA - Lampung Selatan  Yayasan Paluma Nusantara (PALUMA) memperkuat upaya pengurangan risiko bencana dengan menggelar Workshop Sistem Komunikasi Peringatan Dini Bencana Tsunami Selat Sunda di Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (27/1/2026).


Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB ini berlangsung di Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau, Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa. Workshop digelar sebagai respons atas tingginya tingkat kerawanan bencana di wilayah pesisir Lampung Selatan.

Berdasarkan Indeks Risiko Bencana (IRB) Indonesia 2023 yang dirilis BNPB, Kabupaten Lampung Selatan menempati peringkat ke-4 daerah dengan risiko bencana tertinggi di Provinsi Lampung dan masuk kategori zona merah rawan bencana.


Project Manager PALUMA, Nanang Priyana, menegaskan bahwa potensi tsunami Selat Sunda menuntut sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi dan berbasis informasi.

“Penanggulangan bencana membutuhkan sistem informasi yang sistematis, terkontrol, dan real-time. Ini penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta memperkuat koordinasi antar lembaga,” jelasnya.

Workshop ini bertujuan meningkatkan kapasitas para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sistem komunikasi dan informasi peringatan dini, agar data kebencanaan dapat diakses secara cepat dan akurat saat situasi darurat.


Kegiatan dibuka oleh Kalaksa BPBD Lampung Selatan, Maturidi Ismail, SH, yang mengapresiasi peran Satgas Desa Tangguh Bencana (DESTANA). Ia menekankan bahwa bencana bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, sehingga kebersamaan, kekompakan, serta kesiapan menjadi kunci utama.

“Semoga materi hari ini dapat terserap dengan baik dan diterapkan di masyarakat. Kita berdoa tidak terjadi bencana, namun jika terjadi, kita sudah lebih siap,” ujarnya.


Sebanyak 31 peserta dari berbagai unsur mengikuti workshop ini, di antaranya BPBD Provinsi Lampung, BPBD Lampung Selatan, Pusdalops BPBD, RAPI, media massa, serta perwakilan DESTANA dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dari desa-desa rawan tsunami seperti Maja, Canti, Way Muli, Kunjir, dan Pulau Sebesi. Kegiatan ini juga melibatkan Paluma Nusantara dan Mitra Bentala.


Melalui workshop ini, PALUMA berharap terbangun sistem peringatan dini tsunami yang efektif, kolaboratif, dan responsif, guna meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian akibat bencana di wilayah Selat Sunda, khususnya Lampung Selatan.


Uyung melaporkan

Share:
Komentar

Berita Terkini