RAJABASA - Ada yang berbeda dari pelatihan yang diikuti oleh Kelompok Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA) kali ini. Jika biasanya kegiatan dilakukan di dalam ruangan, pelatihan budidaya jamur bonggol jagung yang diselenggarakan oleh Paluma Nusantara justru berlangsung langsung di kebun milik Pak Sahrul, Desa Rajabasa, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan.Rajabasa, 23 April 2026.
Di tengah suasana kebun yang asri, anggota PEKKA dari Desa Rajabasa dan Desa Canti belajar langsung dari sumbernya. Tidak ada sekat ruang kelas, yang ada adalah praktik nyata, tangan yang kotor oleh media tanam, dan semangat belajar yang tumbuh bersama.
Pak Sahrul, selaku pengelola budidaya jamur sekaligus narasumber, membimbing peserta dengan pendekatan langsung di lapangan. Ia mengajak peserta mengikuti seluruh tahapan budidaya, mulai dari menyiapkan dan menabur media tanam dari bonggol jagung, pemberian starter atau bibit jamur, hingga proses panen.
“Kalau langsung praktik seperti ini, biasanya lebih cepat paham. Peserta bisa lihat, pegang, dan langsung mencoba,” ujar Pak Sahrul saat mendampingi peserta di kebun miliknya.
Pendekatan ini membuat pelatihan terasa lebih hidup. Peserta tidak hanya mendengar penjelasan, tetapi benar-benar mengalami prosesnya. Dari bonggol jagung yang sebelumnya dianggap tidak bernilai, mereka mulai melihat peluang baru yang bisa dikembangkan.
Budidaya jamur bonggol jagung sendiri dinilai cukup prospektif. Permintaan pasar lokal tergolong tinggi, dengan harga jual sekitar Rp20.000 per kilogram. Selain itu, perawatan dan penanganannya relatif mudah, serta bahan bakunya melimpah di desa.
Perwakilan Paluma Nusantara menyampaikan bahwa pelatihan ini dirancang agar peserta benar-benar siap menerapkan di rumah atau secara kelompok. “Kami sengaja membuat pelatihan berbeda, tidak hanya di kelas, tetapi langsung di lapangan, agar peserta lebih yakin dan siap memulai,” ujarnya.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan. Mereka aktif bertanya, berdiskusi, dan saling membantu saat praktik berlangsung. Bagi banyak peserta, pengalaman belajar di kebun ini menjadi sesuatu yang baru sekaligus membuka wawasan.
Pelatihan ini bukan hanya tentang teknik budidaya jamur, tetapi juga tentang membangun kepercayaan diri dan membuka peluang usaha. Bagi anggota PEKKA dari Desa Rajabasa dan Canti, ini menjadi langkah awal menuju kemandirian ekonomi.
Dari kebun sederhana milik Pak Sahrul, tumbuh harapan baru bahwa dengan kemauan belajar dan memanfaatkan potensi lokal, perempuan desa mampu menciptakan peluang dan memperkuat ekonomi keluarga secara berkelanjutan. (Rls)
