LAMPUNG SELATAN - Suara peringatan darurat menggema dari alat komunikasi radio, memecah aktivitas warga. Informasi dari Pulau Sebesi menyebutkan gelombang tsunami telah terjadi dan berpotensi menuju pesisir. Tanpa didahului gempa bumi, kabar itu segera diteruskan ke Desa Canti dan Desa Rajabasa. Dalam hitungan menit, warga bergegas meninggalkan rumah untuk menyelamatkan diri menuju titik aman.
Namun, situasi tersebut bukan kejadian nyata, melainkan bagian dari simulasi peringatan dini dan evakuasi tsunami yang digelar di Desa Canti pada 21 April 2026 dan Desa Rajabasa pada 23 April 2026, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Paluma Nusantara sebagai upaya memperkuat kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap ancaman tsunami, khususnya di kawasan Selat Sunda.
Simulasi ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Destana, pemerintah desa, Linmas, hingga unsur masyarakat lainnya. Kegiatan juga dihadiri oleh BPBD Provinsi Lampung serta Kepala Pelaksana BPBD Lampung Selatan beserta jajaran yang memantau langsung jalannya simulasi.
Dalam skenario yang dirancang menyerupai kondisi nyata, informasi awal berasal dari Pulau Sebesi melalui komunikasi handy talky (HT) yang mengabarkan telah terjadi tsunami. Informasi tersebut kemudian diteruskan ke pemerintah desa, yang selanjutnya melakukan konfirmasi kepada BPBD Lampung Selatan. Setelah dinyatakan valid, peringatan dini segera disebarluaskan kepada masyarakat dan evakuasi dilakukan secara cepat menuju lokasi aman yang telah ditentukan.
Perwakilan Paluma Nusantara, Nanang Priyana, menegaskan bahwa simulasi ini dirancang berbeda dari kebanyakan simulasi tsunami pada umumnya.
“Simulasi komunikasi peringatan dini tsunami Selat Sunda di Lampung Selatan ini berbeda dengan simulasi tsunami pada umumnya, karena tsunami yang terjadi di Lampung Selatan tidak diawali dengan gempa bumi. Jadi simulasi ini memang dikhususkan untuk wilayah Lampung Selatan,” ujarnya.
Pendekatan ini bukan tanpa alasan. Wilayah pesisir Selat Sunda memiliki karakteristik ancaman tsunami non-tektonik, seperti yang terjadi pada akhir 2018. Saat itu, tsunami menerjang wilayah pesisir Lampung Selatan dan Banten tanpa didahului gempa bumi, melainkan dipicu oleh aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau. Peristiwa tersebut menyebabkan lebih dari 400 korban jiwa, ribuan luka-luka, serta kerusakan permukiman dan infrastruktur di sepanjang pesisir.
Belajar dari kejadian tersebut, simulasi ini menekankan pentingnya kecepatan dalam menerima dan merespons informasi, tidak hanya mengandalkan tanda alam seperti gempa. Masyarakat dilatih untuk segera bertindak ketika menerima peringatan resmi, termasuk melakukan evakuasi mandiri ke lokasi aman.
Selama simulasi berlangsung, warga terlihat aktif mengikuti setiap tahapan, mulai dari menerima informasi, bergerak menuju jalur evakuasi, hingga berkumpul di titik aman. Peran Destana, pemerintah desa, dan Linmas menjadi krusial dalam memastikan proses evakuasi berjalan tertib dan terarah.
Selain meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi sistem komunikasi peringatan dini berbasis komunitas serta memperkuat koordinasi antar pemangku kepentingan, mulai dari tingkat desa hingga kabupaten. Dalam skenario ini, Pulau Sebesi memegang peran krusial sebagai titik awal penyampaian informasi yang menjadi sumber peringatan dini sebelum diteruskan ke wilayah pesisir seperti Desa Canti dan Desa Rajabasa, sehingga mempercepat respons dan proses evakuasi masyarakat.
Melalui simulasi ini, diharapkan masyarakat pesisir Lampung Selatan semakin tanggap terhadap potensi tsunami, terutama yang terjadi tanpa tanda gempa, sehingga mampu menyelamatkan diri secara cepat dan tepat saat bencana benar-benar terjadi.(Rls)
